Oleh: Muhammad Afwam

“Ayo keluar, Ghif!”

            Itu pernyataan yang sangat kubenci. Terlebih jika sesorang, entah siapapun, melayangkannya pada saat jam keluar dan kondisi badanku sedang lemah karena kecapaian. Sungguh, aku benci itu. Betapapun akhirnya mereka bisa memaklumi ketidak bisaanku, tapi aku tetap membenci ungkapan itu.

            Sejak diberi amanah menjadi mustahiq salah satu kelas di madrasah diniyyah jenjang ula, waktuku terasa penuh sekali. Kesempatan ngopi dengan rekanku menjadi terbatas. Seakan-akan masa mudaku diretas. Tapi mau apa lagi,  mau bagaimana lagi. Hal semacam ini sudah mentradisi. Entah dengan pertimbangan apa, santri yang telah menyelesaikan pendidikan jenjang aliyyah akan mendapat surat amanah. Ya, begitulah kami biasa menyebut surat pengangkatan itu.

            Pernah suatu ketika Kang Burhan, teman satu kamar denganku, mengajukan ketidak sanggupannya kepada kepala madrasah. Waktu ditanya alasannya apa, santri asal kota angin itu menjawab bahwa dia merasa tidak pantas.

“Apa, Han?”. Tanya pak Irham sambil menatap wajah rekanku itu.

“Aku tidak pantas menjadi guru, Pak”. Ulang Burhan. Wajahnya memerah. Ia menjawab pertanyaan itu sambil mengusutkan muka. Aku tahu betul bagaimana rasanya ditanyai kepala madin itu. Meski terkenal baik, tapi kalau sudah bertatapan begini, terlebih membahas urusan pelik, pasti sangat merinding. Lebih menegangkan ketimbang menonton film Danur 2. Kalah aura.

            Pak Irham menghela nafas. “Burhan!”.

Serempak kami berdua menghadapkan badan kearah Pak Irham, menunduk, tanpa berani sedikitpun mengintip bagaimana raut wajahnya yang bersih itu.

“Siapa yang bilang kamu ini pantas? Hah!”. Kami merinding sejak sebelum beliau mengucapkan kalimat itu.

                        “Siapa?!”. Tanya Pak Irham sambil agak memajukan mukanya. Burhan terpojokkan. Aku terpaku heran. Aku kenal betul dengan Pak Irham. Seperti yang sudah kubilang tadi, beliau baik. Tapi kalau sudah menjarah pada urusan pelik, akan berbeda sikapnya.

 Seakan tidak memerlukan jawaban, beliau melanjutkan:

“Begini lo, Han. Sebagai santri, selain belajar, kita juga perlu mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari. Perlu ada yang namanya nashrul ilmi, menyebarkan ilmu. Makanya, kamu jangan sampai salah faham. Aku dan beberapa pengurus lain, sebetulnya, malah memberi lahan untuk kalian belajar. Belajar apa? Ya belajar bagaimana mengamalkan ilmu”

            Aku mengangguk-angguk. Rupanya Burhan juga. Dan kami sepakat telah merasakan keteduhan pembawaan Pak Irham.  Kalimatnya begitu jelas, mudah diterima. Seketika kami tersihir untuk memandang wajah beliau. Bersiap menangkap kalimat-kalimat yang sepertinya akan segera keluar lagi.

“Ini bukan soal pantas atau tidak pantas. Di pesantren itu, tarafnya kita masih belajar. Ketika diberi tanggung jawab. Menjadi guru, misalnya. Pertimbangannya bukan karena kita pantas, lalu diangkat menjadi guru. Bukan. Tapi kita diberi amanah seperti itu biar kita bisa belajar bagaimana caranya agar pantas menjadi guru. Belajar, bagaimana caranya agar menjadi guru yang baik dan bisa ditiru”.

            Secara pribadi aku sangat setuju dengan beliau. Barangkali Burhan juga. Kami mengangguk-angguk. Dan sejak saat itulah, aku memaksa badanku untuk menjalankan amanah itu walau terpaksa. Ya, terpaksa. Setelah itu terbiasa. Semoga.

*****

            “Ayo keluar, Ghif!”

            Dan aku tetap membenci ungkapan itu. Sampai kapanpun.

            “Ghif, ayo keluar!”

            “Ya”. Jawabku sambil menatap tajam buku yang sebenarnya tidak kubaca.

            “Ayo, Ghif. Keluar!”

            Aku mulai geram. Dan kenapa rekanku ini belum sadar juga kalau aku sangat tidak menyukai kalimat itu meskipun dibolak-balik susunannya. Aku menatapnya datar. Dia malah tertawa.

            “Ghiiif, Ghif! Diajak keluar malah meneng koyok monyet ketulup

“Nanti malam aku ada jam diniyyah, Burhaaaaaan!”. Kesal sekali aku dengan orang ini. Dia selalu mencari gara-gara. Jam diniyyah burhan memang lebih sedikit tiga hari ketimbang aku. Dalam satu pekan, dia hanya masuk dua hari. Dan aku, kau tahu? Lima hari dalam satu minggu. Bayangkan!

            Penyuka kopi hitam itu semakin girang; menertawaiku. “Kau ini kenapa, Ghiffarii. Kawan baikkuu?”.

Tentu saja aku terbelalak. Sudah kubilang jelas sekali. Nanti malam aku ada jam diniyyah. Dan seharusnya dia tahu jadwal masukku. Apa Burhan ini lupa?. Ah, tidak mungkin. Malahan belakangan dia yang sering mengingatkanku.

“Sekarang hari kamis, Ghif! Nanti malam mau ngaji sama siapa kau?”. Burhan tertawa segila-gilanya.

Aku terkejut setengah mati mendengar kalimat itu. Astaghfirullah, aku benar-benar lupa kalau ini hari kamis. Dan setiap kamis malam jumat, kegiatan diniyyah pasti libur. Mukaku terasa mengkerut; ingin segera menyembunyikan diri.

“Gimana, Ghif? Ayo keluar!”. Aku meliriknya. Duh. Apa mungkin aku masih membenci kalimat ini?. Batinku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *