Oleh: Muhammad Afwan

Sepertinya kau tak akan pernah peduli kenapa Desember kerap membuatku terluka. Bulan yang memang rela menjadikan dirinya akhir dari satu tahun kisah panjang. Momentum paling elegi untuk sejenak mengoreksi diri sendiri. Tapi bukan itu penyababnya. Bukan karena itu aku terluka. Aku terluka karena orang-orang bahagia tanpa sebab. Aku terluka karena orang-orang tak begitu menghiraukan akibat.

            Saban selesai ngaji, biasanya aku tidak langsung balik ke bilik. Suasana sore yang hangat membuatku ingin rutin duduk di pelataran masjid. Tapi kali ini berbeda, tempat yang biasanya aku duduki sudah didahului rekan-rekanku. Mereka bergerombol, ngobrol. Maklumlah, 2 minggu lagi libur semester. Barangkali mereka sedang menyusun rencana untuk pergi kesana-sini. Jadi, daripada mengganggu, ku putuskan untuk tidak bergabung.

            Ku pakai sandal japit yang umurnya sama dengan usiaku mondok. Ya, benar sekali. Sandal ini yang selalu menemaniku kemanapun aku melangkah. Dia yang memberiku semangat saat  rapuh. Ini sandal pemberian Bapak. Meski tidak mahal, bagiku, pemberian orang tua adalah hal yang harus dijaga sekuat tenaga.

            Pernah suatu ketika, selepas ngaji, aku kaget karena sandal putih hijau itu tidak ada di tempatnya. Tentu aku sebal. Sampai aku mantapkan, kalau sampai ketemu siapa yang memakai sandalku, pasti akan ku gilas habis. Selang beberapa detik Darman berlari kerahku. “Maaf, Mil! Sandalmu tadi ku pinjam sebentar. Hehehe”. Begitu ungkapnya sambil tergopoh mengembalikan sandalku pada posisi semula.

            “Oalah, kamu toh! Oke oke, santai saja”. Ucapku sekenanya.

            “Hehehe. Maaf ya. Soale aku takut kau tabok juga”.  Timpal rekanku itu sambil menyalamiku. Aku terkekeh.

            Memang sempat aku menabok salah seorang temanku (yang tidak kusebtukan namannya) hanya gara-gara dia makai sandal pusaka itu tanpa seizinku. Waktu itu aku geram sekali. Ku cari kemana-mana. Harus dapat. Sampai pada salah satu bilik yang di depannya ada sandalku,

“Siapa yang habis makai sandal ini?!”. Sergapku sambil menodongkan sandal japit itu ke semua arah.

“Aku, Mil!”

“Braaakk!”. Kira-kira bunyinya seperti itu ketika spontan kulayangkan badan sandal ini ke mukanya. Sebenarnya aku juga heran ditambah takjub dengan kejujuran rekanku itu. Tapi walau bagaimanapun, dia salah. Harus diberi peringatan.

*****

            “MIIL!”

Langkahku terhenti mendengar suara panggilan itu. Sepertinya aku kenal. Agak serak dan berat. Ku cari sumber suaranya. Dan alangkah kejutnya ketika aku tahu bahwa si pemilik suara tadi adalah Tio, karibku sewaktu SD. Kami bersalaman.

“Gimana kabarmu?”

“Baik. Kau gimana, Mil? Tambah ganteng aja!”

Dan aku menyadari kalau sekarang kami menjadi pusat perhatian. Mungkin saking lepasnya kami berkelakar. Akhirnya Tio mengajakku keluar pesantren menaiki mobil hitam miliknya. Bersama hari yang kian larut, kami sampai di kedai kopi Pak No, langgananku.

Aku selalu suka tempat ini. Desain sederhana dengan lampu-lampu kuning yang menawan disetiap sisinya. Apalagi lukisan-lukisan Pak No yang terpampang disebelah kanan kami, itu daya tarik tersendiri. Dan kurasa, suasana disini memang kental sekali dengan seni.

“Loh, nak Kamil!”. Pak No menghampiri kami. Menyalami, lalu duduk semajlis.

“Hehe. Nggeh Pak No”

Sopo iki, nak Kamil? Sepertinya belum pernah kesini?”

“Oiya, kenalkan, Ini Tio. Rekanku waktu SD dulu, Pak No”

“Oalah. Iya iya. Temu kangen critane iki. Sudah 9 tahunan nggak ketemu ya? Hahah”

Kamipun larut dalam tawa.

“Yawes, tak tinggal dulu. Nanti biar pegawaiku yang membawakan menu kesukaanmu kesini”

“Hehehe. Nggeh. Terimakasih banyak Pak No”.

Dingin menyelimuti kami. Angin dan air bersenandung dalam gerimis. Tio sedang sibuk menarikan jari-jarinya diatas layar ponsel. Ku pandang dia sejenak. Kemeja merah, rambut licin dan rapi, kumis tipis. Dia memang sudah banyak berubah. Aku segera mengeluarkan buku catatan kecil dari saku kemeja. Menuliskan hal-hal sederhana yang luarbiasa pada hari ini.

“Kapan libur?”

“Minggu depan sudah libur. Tapi aku pulang belakangan”

“Sudah punya rencana liburan kemana?”

“Aku tidak pernah merencanakan liburan kemana-mana”

“Datar juga hidupmu”

“Kenapa datar?”

“Liburan itu perlu. Biar otakmu fresh. Apalagi kamu belajar di pesantren. Pasti sering penat”. Jelas Tio sambil menatapku tajam. Kubalas dengan senyum.

Menu kami datang. Dua gelas cappucino dan satu piring pisang goreng coklat. Asapnya bergelayut, masih panas. Ku dekatkan satu gelas ke arah Tio. Dia kembali terpaku dengan hpnya, aku dengan buku catatan kecil. Dia senyum-senyum sendiri entah karena apa, aku menghela nafas dalam-dalam. Merasakan ketenangan yang tersirat dari desain clasic tempat ini. Juga kepenatan akibat arah perbincangan kami. Kurasa diatas kepalaku sudah timbul kepulan asap, sama seperti secangkir cappucino yang sedang kuseruput ini. Dari awal aku juga sudah menduga bahwa segala tentang Desember akan terasa menyebalkan.

“Ilmuwan Wisconsin pernah melakukan penelitian soal ini, Mil. Resiko depresi paling tinggi, bakal dimiliki orang yang liburannya kurang dari dua tahun sekali. Bahkan lembaga riset yang berada di Universitas Pittsburgh, menyatakan bahwa melakukan liburan atau rekreasi akan banyak melesatkan emosi positif”. Ungkap Tio panjang lebar. Lalu dilihatnya jam tangan minimalis berwarna hitam yang melekat dipergelangan tangan kanannya sendiri. Tapi aku heran, dari mana dia tahu semua itu. Barangkali barusan dia browsing, lalu disimpulkan sekenanya.

“Tapi tidak harus dengan pergi kemana-mana, kan?”. Selaku sekenanya. Tio tertawa. Kuseruput kembali minumanku yang sudah mulai hangat.

“Apa rencanamu?”.

Aku memandangnya sejenak. “Ya pulang. Dirumah. Mau kemana lagi?”

Tio mengangkat alis. “Hmm”.

“Prioritasku adalah keluarga. Dalam satu tahun, aku hanya bisa pulang dua kali. Libur ramadhan sama semesteran seperti ini. Libur panjang, bagiku, adalah kesempatan terbesar untuk birrul walidain. Dan kau tahu, resiko rindu paling tinggi akan terjadi pada anak yang tidak berkumpul dengan keluarganya kurang dari dua kali dalam satu tahun”.

Mendengar ucapanku, Tio tersedak. Menumpahkan sedikit minumannya ke lantai.

“Eh, kenapa?”. Tentu saja aku khawatir.

Tio malah terkekeh. “Aku terkesan dengan omonganmu barusan. Sama sekali berbeda seperti dulu”.

“Memang harusnya seperti itu, kan? Dinamis”. Sahutku.

                Dua menit berlalu. Kami pura-pura sibuk dengan apa yang ada pada genggaman kami sendiri-sendiri. Terasa dingin; angin, juga suasananya. Aku bahkan belum bisa merubah statementku bahwa desember telah membekaskan luka.  Dan mungkin saja Tio akan menyesal telah menemuiku dan mengunjungi duniakku hari ini.

*****

                Malam terasa kian layu. Beberapa pelanggan juga mulai sayu, termasuk aku. Soal sekarang jam berapa, aku tak terlalu peduli ini tengah malam atau hampir pagi.

“Kau tidak pulang?”. Tanyaku entah kepada siapa. Ku tutup buku catatan kecil yang berisi hal-hal kecil pula. Kuhabiskan sisa pisang goreng coklat yang sudah kerut. Aku yakin, hal sekecil apapun, kalau kita hargai, pasti akan berdampak besar.

“Tio itu orang baik”. Kataku kepada diriku sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *