Oleh: Muhammad Afwan

Perkenalkan, namaku Bani. Lengkapnya Nashiruddin Sya’bani. Biasa dipanggil Ban. Sebenarnya aku kesal dengan sebutan itu. Namun lama-lama terbiasa. Malah ada yang lebih parah. Aku punya teman namanya Abdul Lathif. Kalau diartikan kurang lebih adalah ‘hamba Allah yang lemah lembut’. Tapi, kau tahu, oleh teman-teman malah dipanggil ‘kecap’ hanya karena warna kulitnya yang hitam. Aduh! Sepertinya kau sudah tahu alasan kenapa aku dipanggil ‘Ban’.

            Hari-hariku terasa melelahkan. Ba’da subuh, ngaji. Setelah itu sekolah sampai jam 3. Ba’da ashar ngaji. Ba’da maghrib ngaji. Ba’da isya ngaji lagi. Begitu saja setiap hari. Jenuh juga sebenarnya. Kau tahu, saat anak-anak seusiaku diluarsana bisa bermain hp, lalu nge-game, disini malah dilarang. Kalau ketahuan, bahkan, termasuk dalam daftar pelanggaran berat yang akibatnya bisa dikeluarkan dari lembaga. Ya, kau tentu tahu kalau aku sedang berada di pesantren.

            “Ban, kau mau ikut aku tidak?”. Sergap Dio mengagetkan tafakkur-ku.

“Mau kemana?”

“Kau nggak bosan disini terus?”. Balasnya dengan tanya. Aku heran, kenapa bisa cocok begini. Akupun segera setuju dengan pertanyaan itu. Atau barangkali si maniak game ini memang punya ilmu khusus. Kalau aku pernah dengar dari pengajian Kyai kemarin, yang seperti itu disebut dengan; weruh sak durunge winarah. Entahlah. Tanpa berfikir panjang aku mengamini arah pembicaraannya.

Akhirnya, berdua, kami pergi keluar pondok melalui gerbang belakang. Mengikuti arah sepanjang jalan setapak. Sesekali aku mengambil kerikil yang kemudian kulempar keras-keras kearah sungai. Tiba-tiba aku ingat sesuatu.

“Eh, Ndul (begitu pangilan Dio; Gundul), ini sudah jam 02.55. Sebentar lagi ashar”

“Lha itu. Ayo cepetan! Sebentar lagi sampai, Ban!”.

Akhirnya langkahku terhenti didepan sebuah bangunan ringkih yang aku tidak tahu namanya. Gundul, yang sudah berjalan duluan menoleh “Ayo, Ban!”. Aku tergagap. Segara aku mengikutinya memasuki pintu utama yang berdaun selembar kain.

Gila! Tidak kusangka akan seperti ini. Didalam ramai sekali, penuh. Barang tentu bangunan yang terlihat rusuh dari luar ini hanya dibuat-buat agar tidak ketara kalau ini tempat persembunyian. Dan dugaanku 100% tepat. Si Gundul akan mengajakku ke rental ps. “Ndul, rame banget iki!”.

“Husssstt!”. Sergap Gundul kearahku sambil memoncongkan bibir. Sumpah, jelek sekali.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  

“Bang! Lokasi aman!”. Si Gundul berteriak entah kepada siapa yang berada dipojok ruangan. Sepertinya itu yang punya.

“Ayo, Ban!”. Kali ini Gundul menarik tanganku.

Kami masuk kedalam lagi. Melewati lorong sepanjang 12 pintu yang penuh asap rokok. Aku tidak menyangka kalau bangunan ringkih ini punya banyak sekali ruang. Dan kami masuk kedalam lagi. Kedalam ruang kecil, yang sepertinya sudah disiapkan. Rapi. Lengkap dengan kipas angin, kasur kecil yang sudah kempes, dua gelas es teh, dua mangkuk mie instan kuah, dan barang tentu sepaket perangkat untuk bermin game.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                       

“Gimana, Ban? Hahaha”. Si Gundul itu tertawa-tawa sambil rebahan. Bak seekor burung yang lepas dari sangkarnya. Sebenarnya aku tak enak hati. Takut ada apa-apa, khawatir kenapa-napa. Sejenak aku ingat bagaimana orangtua di rumah yang selalu lelah. Demi aku, mereka selalu berpeluh. ‘Ah, biarlah! Sebentar saja. Buat refreshing’. Batin ku.

Akhirya Gundul memulai permainan. Dan aku pun tak peduli sedang bermain game apa, aku ikut saja. Yang penting bersenang-senang, terlepas dari segala kejenuhan. Terdengar sorak keseruan dari ruangan sebelah. Ya, hematku, ini memang tempat pelepas penat yang cocok sekali. Tidak ada satupun pengururs pondok yang tahu kami berada disini. Mau berbuat apapun, bebas. Sesuka kami.

Nampaknya hari sudah semakin gelap. Mataku juga terasa panas. Ah, ya! Aku belum sholat ashar. Tapi biarlah. Sekali-kali juga tidak masalah, kan? Si Gundul juga masih seru sendiri. Tidak mau diganggu katanya. 10 menitan lalu aku dipinjami hp-nya. “Ini, kamu pakai ini saja. Aku tak nge-game sendiri”. Begitu katanya, saat aku beberapa kali membuat permainannya kacau. Kami benar-benar larut dalam kesenangan.

Pukul 17.50. Selepas mandi besar, aku segera membangunkan Gundul yang tidur sambil mendengkur. Barangkali kalian tahu, aku tadi khilaf, tidak sengaja melihat film dewasa yang tak punya malu itu. Dan tak perlulah kuceritakan panjang lebar soal ini. Yang jelas, aku harus segera membangunkan Gundul. Kami harus segera kembali sebelum maghrib tiba.

*****

Sungguh aku merasa tak enak hati soal kelakuanku tadi. Sesuatu yang ku kira akan membawa ketenangan, justru malah mengikatkan keresahan. Betapa yang kurasakan saat ini adalah kesenangan yang singkat, lalu hilang begitu saja mendahului senja yang sudah terlihat renta. Sungguh, aku tak enak hati.

Dari kejauhan, aku melihat Kecap sedang berteriak entah apa sambil menunjuk kearahku. Dan aku segera tahu kalau dia sedang memanggil-mangilku meskipun huruf N yang terakhir tidak terlalu terdengar. “Ban! Wooi! Baaaaaaa!”.

Ada apa? batin ku. Kupercepat langkahku. Khawatir ada apa-apa. Karena sejak tadi memang aku tidak enak hati. “He! Ban!. Ingat jangan bilang  kepada siapapun kita habis dari mana!”. Begitu ancam Gundul sebelum aku berlari kearah Kecap.

“Dari mana saja kamu?”. Tanya Kecap alias Lathif.  Aku tergagap. Bingung mau menjawab apa. Melihat aku kebigungan, namoaknya Kecap tidak segan dan segera melanjutkan ucapannya.

“Tadi Orangtuamu kesini. Nyari-nyari kamu nggak ketemu”.

Sungguh, aku terhenyak setengah mati mendengar kalimat itu. “Sunnguh?!”

“Eh, dibilangi malah nanya! Barusan beliau pulang”.

Aduh! Bagaimana ini. Pasti mereka sangat kecewa. Perjalanan 12 jam dari kampung ke pesantren, tapi mendapatiku tidak ada di pondok. Ah! Maafkan anakmu ini! Seketika badanku kaku. Semakin angin membelai tubuhku, semakin membekukan seuruh persendian. Dan otakku masih saja membebalkan diri sendiri. Ah! Bagaimana ini?!

Segera aku lari menuju kantor pondok. Meminjam telepon milik Pak Adnan, lurah pondok. Aku sudah tak kuasa. Dalam fikiranku hanya satu, meminta maaf kepada orangtuaku.

“Assalamualaikum, Buk”

“Wa’alaikumusaalam. Ini Albani? Darimana saja kamu, Nak? Ibu kangen sekali sama Albani. Darimana saja kau tadi?”

Ah, tidak! Aku benar-benar tak bisa menahan rindu pada beliau. Suara beliau yang lembut melebihi sutra, mendamaikan, melenyapkan lara. Sampai-sampai aku tak mampu menjawab pertanyaan beliau. Aku diam, menyembunyikan suara isakan.

“Kamu harus sungguh-sungguh, Nak. Yang semangat belajarnya. Ingat, kita dianugrahi Allah cahaya pada hati kita. Yang selalu bisa berkata; mana yang baik dan mana yang buruk. Dialah nurani. Kamu harus pandai mendengarkanya, Nak, Albani. Yang semangat kalau belajar, yang ta’at. Mumpung Bapak dan Ibuk masih bisa menemami, membantumu dengan do’a”

Aduh! Kau bahkan tahu sendiri, aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Gagang telepon kulepas. Air mataku deras.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *