Oleh: Muhammad Afwan

Dalam dua minggu terakhir, hujan mulai mengguyur tanah kami. Sungguh anugerah luar biasa setelah bulan-bulan kemarau yang panjang. Dalam bahasa jawa, kata ‘hujan’ disebut dengan ‘jawah’ yang memiliki keterkaitan dengan kalimat bahasa arab; ja’a romatullah, datangnya rahmat dari Allah. Maka aku percaya, mendungnya menanggung duka, setiap tetes airnya menyembunyikan luka. Dan tidak akan ada kesedihan setelah hujan reda.

            Sore itu, setelah pengajian rutin di masjid, aku beranjak menuju sungai yang berada tidak jauh dari halaman belakang pesantren. Angin segar menghembuskan kebebasan, dedaunan meliuk-liuk tak beraturan, senada dengan buliran air yang berjatuhan. Sampai disana, aku tak sabar untuk segera menceburkan diri ke bibir sungai yang deras. Maka, segera kulepas songkok, kemeja, lalu kaus, kemudian sarung, kusampirkan ditangkai pohon lamtoro. Dan menyisakan celana pendek sebatas lutut yang tetap kukenakan.       

            Air yang berwarna coklat tak sedikitpun membuatku urung menyelami kedalamannya. Bersama riak-riak air itu, aku bersenandung. Mengukung maksud-maksud jahat setan yang kemungkinan akan semakin rakus. Perkataan Kiki meliputi fikiranku sekarang. “Pada setiap keburukan, pasti ada kebaikan”.  

            Aku dan Kiki sudah seperti sepasang burung dara. Begitu kata teman-teman. Kami memang kerap menyusun rencana sebelum melakukan sesuatu. Kami lebih sering berdua; belajar, diskusi, sema’an hafalan nadzom, bahkan soal mandi-pun kami sudah sepakat menjadwalkannya.

             “Kalian lanangan ya?”. Itu kalimat pertama yang kudengar setelah aku dan Kiki berpelukan ketika dia baru kembali dari pulang karena sakit. Padahal ini biasa dilakukan Ayah dan temannya ketika bertemu. Guru sepuh juga berpelukan ketika bertemu dengan beberapa kyai luar daerah. lanangan apanya? Bantahku. Bukankah ini merupakan sunnah Rosul?

Dulu, ketika sahabat Zaid bin Haritsah baru tiba di kota Madinah, ia langsung menuju rumah sayyidah ‘Aisyah yang Rosul berada disana. Sahabat Zaid mengetuk pintu rumah mulia itu, dan dibukakan oleh Rosulullah. Segera, sahabat Zaid menarik-narik jubah Rosul untuk kemudian memeluknya erat-erat dan mencium tangan beliau.

***

Langit semakin gelap. Sudut-sudut pesantren juga kian meredup. Hujan yang semula deras kini mulai reda. Suara adzan bersahutan terdengar samar-samar dan sesaat kemudian  lantang suara mu’adzin pondok menyeruak. Kiki beringsut dibalik selimut. Aku menghampirinya. “Ki, ayo berangkat, Ki. Sudah maghrib!”

Tidak ada respon. Aku juga tidak tahu sejak kapan Kiki mlungker begini. Setahuku, tidak ada nyanyian yang paling dia suka selain pujian waktu maghrib.

وَقَلْبُهُ لَمْ يَنَـمْ وَالْعَيْنُ قَدْ نَعَسَتْ # وَلَايَرٰى ظِـلَّهُ فِى الشَّمْسِ ذُوْ فَـطِنِ

Kulantunkan sholawat itu, berusaha menirukan suara merdu dari speaker yang sejak tadi menggema-gema.

كَـتْفَاهُ قَدْ عَلَـتَا قَوْمًا إِذَا جَلَسُوْا # عِنْـدَ الْوِلَادَةِ صِـفْ يَا ذَا بِمُخْتَتَنِ

Kiki semakin kuat mendekam dibalik selimut. “Kau kenapa, Ki?”. Sambil kusibak pundaknya, barangkali dia berkenan membuka wajahnya. Atau kalau tidak, minimal mau menjawab tanpa harus unjuk muka. Itu berulangkali kulakukan, tapi belum juga berhasil.

Ku putuskan membiarkannya. Bisa jadi dia lelah. Belakangan Kiki memang sering kembali ke kamar larut malam. Ada kumpulan diskusi, katanya. Karena bagamanapun juga, pasti ada saat dimana manusia tidak ingin diganggu oleh apapun dan siapapun. Hanya ingin sendiri sambil memikirkan hal-hal yang tak pasti. Atau tanpa alasan sama sekali.

“Kang Dheri! Ayo segera berangkat!” suara itu terdengar parau. Aku segera tunduk sebab ucapan itu. Juga karena sikap Kiki yang belakangan membuat otot lenganku kaku. Aku bangkit dan keluar kamar.

Sejurus kemudian, aku melihat mobil berplat W datang. Parkir tepat didepan bilik kami. Seorang lelaki keluar dari kendaraan hitam itu. sekilas aku bisa menebak bahwa itu Ayah Kiki. Ada apa? dan pertanyaan itu hanya mendapat jawaban-jawaban tak pasti seiring dengan langkah kakiku menuju masjid.

***

Malam tanpa bintang adalah saksi bisu kejadian paling tragis di pesantren itu. Seperti biasanya, selepas jam kegiatan malam, dua sejoli akan menuju kamar mereka dan bersiap istirahat. Namun malam ini, Kiki, salah satu diantara keduannya tidak langsung ke kamar. Ia berpamitan pada karibnya, Dheri, dan menitipkan kitab-kitab yang ia bawa tadi. Dheri mengiyakan. Remaja tambun itu sama sekali tidak memikirkan apa-apa terkait ini.

Tiga hari berikutnya, malam terasa semakin padam akibat pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran Dheri. Diskusi larut malam tidak baik. Pikirnya. Dalam sejarah pesantrennya, tidak pernah ada kegiatan lain saat jam istirahat malam selain bersiap tidur. Akhirnya, demi melucuti jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya sendiri, Dheri memutuskan menguntit sahabatnya.

Dengan cekatan, yang berarti juga membuat mayoritas tubuhnya mentul-mentul, segera ia menuju kamar dan meletakkan kitab-kitab yang ia bawa, termasuk punya Kiki, kedalam almarinya. Lalu cepat, ia kembali dan membuntuti karibnya itu dari belakang. Dheri terus berjalan dengan langkah yang sedetak dengan detik. Merambat diantara tiang-tiang penyangga lorong menuju gedung ‘A’.

Gedung ‘A’ merupakan gedung santri paling sepi. Suasananya tenang, lingkungannya bersih. Hanya terdapat empat bilik yang semuanya dicat berwarna putih tulang. Jarak dua puluh langkah dari tempat Dheri mengintip, Kiki terlihat bersalaman dengan Kang Junaid. Dan tidak lama, Dheri dapat menyimpulkan keduannya tengah berbincang meski tak terdengar suaranya.

Kang Junaid adalah santri yang usianya dua tahun lebih tua di atas Dheri dan Kiki. Ia terkenal sebagai santri yang bersuara merdu. Dia pula yang biasanya melantunkan pujian waktu maghrib. Dheri sedikit lega karena mendapati jawaban atas pertanyaan yang ia buat sendiri. Namun pandangan Dheri kalang kabut ketika melihat Kang Junaid menepuk kening Kiki. Sejurus kemudian, sahabatnya tersungkur.

Betapa geram bercampur takjub Dheri melihat keganjilan itu. Sebenarnya ia ingin bergerak dan menyelamatkan Kiki. Tapi langkahnya terhenti gara-gara melihat Kiki dibopong dan dibawa masuk ke bilik paling ujung. Mata Dheri semakin melotot, berusaha melihat semakin jauh.

Ia mengendap-endap tanpa suara. Melebihi liciknya tawa yang tersembunyi dalam duka, atau sebaliknya. Dheri melangkah mendekati bilik itu. Dan suasana pesantren sedang sepi-sepinya. Ia harus berhati-hati, jangan sampai mengeluakan suara sedikitpun. Atau dia akan tertangkap basah telah melakukan tindakan bodoh.

Malam semakin larut, dan fikiran Dheri semakin kalut sebab mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang ia buat sendiri. Ia semakin mendekat dan kini tepat berada disamping bilik gelap itu. Dirinya hanya terhalang tembok setebal lima belas senti dengan Kiki dan Kang Junaid.

“Dher, Dheri!”

Segera perut buncit Dheri mengkerut karena tergopoh jongkok. Ia kaget. Seperti ada yang memanggil-manggil namanya. Dekat sekali. Ia mulai khawatir kalau gerakannya bisa terbaca oleh seseorang. Ia semakin dalam merunduk. Ia segera menerka bahwa Kang Junaid yang memanggilnya. Ia semakin pucat.

Sementara itu, dibalik tembok tempat Dheri beringsut, kau tidak akan menemukan apapun kecuali pandangan padam. Gerak-gerik apapun tidak kasat mata. Sampai nyamuk pun takut masuk. Takut menabrak sesuatu. Sesekali terdengar suara barang jatuh.

Dengan sigap Dheri berdiri, berniat membekuk bilik yang teramat gelap itu. Ia bersumpah akan menghajar siapapun yang menyakiti sahabatnya. Namun nyalinya kemballi menciut ketika ia mendengar suara yang memanggil namanya itu sekali lagi.

“Dher, Dherii!”

Jantungnya tergagap-gagap. Rambut ikalnya tersikap. Dadanya seperti digerak-gerakkan keras sekali. Suara panggilan itu semakin jelas, dan seperti ada yang menarik lengan bajunya. Dheri beringsut lebih dalam sambil memejamkan mata. Ketakutan.

***

Aku kasihan kepada Dheri. Ia kerap terlihat gopoh, berlarian, lalu mengendap-endap. Aku jadi semakin iba ketika malam itu, aku mendapati dia semakin menjadi. Semua rekanku sudah biasa dengan hal semacam itu. Tapi aku kasihan, tidak kuasa membiarkan hal aneh ini terus menimpa Dheri. Akhirnya kuputuskan untuk mendekatinya yang sejak tadi meringsut disamping bilik paling pojok. Mulanya aku ragu dan takut, karena Gedung ‘A’ malam itu sangat sepi. Ku dekati remaja tambun itu, lalu kupanggil-panggil namanya. Aku semakin kikuk karena ia akan lebih ringsut dan terlihat bodoh kala namanya ku sebut-sebut. Sepeninggalan Kiki, karibnya, Dheri seperti kehilangan separuh kesadaran pada saat-saat tertentu. Benar kata orang bahwa jangan terlalu berharap, kalau tidak kesampaian biar tidak terlalu sesak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *