Sebuah kebanggaan, kita berada di pesantren. Tempat belajar yang sama sekali berbeda dengan lembaga pendidikan lain. Kita bersinergi dengan banyak orang luas (yang sama-sama ingin belajar) dalam satu lokasi yang terbatas setiap hari. Kita dilatih agar bisa hidup bersama, berbagi, dan menyelesaikan persoalan-persoalan secara mandiri.

            Saya ingin bercerita melalui tulisan ini, tentang bagaimana didikan pengasuh kepada santrinya. Bagaimana agar istilah ‘belajar’ tidak melulu di sekolah dan diniyah. Bagaimana biar ‘belajar’ menjadi nafas dalam setiap gerak kita.

##

            Dulu, ada santri yang bernama Kang Muhib. Dia baru lulus Aliyyah, kemudian berencana melanjutkan belajarnya di salah satu Universitas ternama yang sudah lama ia idam-idamkan.

Sore itu, 3 hari sebelum boyong. Kang Muhib diajak ngopi oleh Pak Zulfikar. Beliau bercerita banyak tentang pengalamannya selama di pesantren. Singkat cerita, akhirnya guru ngaji itu menyampaikan maksud perbincangannya kepada Kang Muhib. “Sampean maringene ngganteni aku, Hib”. Ungkap beliau dengan nada tenang, pelan.

Sebetulnya Kang Muhib sudah tahu sejak beberapa hari sebelum ini melalui kabar burung yang telah beredar. Tapi santi asal Jombang itu tetap bertanya, pura-pura tidak tahu “Nopo, Pak?”.

“Ngganteni aku dadi pengurus inti” Jawab Pak Zulfikar.

“Wingi waktu sowan, aku maringaken dua nama ten Yai. Namamu dan Kang Burhan. Dan Yai memilihmu karena sebentar lagi Kang Burhan sudah mau wisuda S2. Dan kau baru lulus Aliyyah”.

Kang Muhib diam, mendengarkan gurunya bicara.

“Tenang ae, Hib. Sampean tetap tak dampingi selama satu bulan kedepan” Tambahnya, sekaligus menjawab keresahan Kang Muhib.

“Tapi kok kulo, Pak? Kulo dereng pernah nggadah pengalaman bidang niki”. Kang Muhib berusaha menyampaikan keengganan, karena memang itu faktanya.

“Sampean keberatan?”.

“Nggeh, Pak. Kulo mboten pantas, dereng siap”. Setelah mendengar jawaban muridnya, Pak Zulfikar meraih gelas berisi teh hangat dan menyeruputnya. Mengangguk-angguk, lalu mengambil nafas panjang, seakan bersiap akan mengatakan sesuatu.

Kang Muhib memperbaiki posisi duduk. Bersiap menerima petuah.

“Begini, Hib. Ini bukan masalah pantas atau tidak pantas. Bukan soal siap atau belum siap. Tapi ini murni belajar. Sampean dipilih menggantikan aku sebagai pengurus inti bukan karena sampean pantas, terus dipilih. Bukan karena sampean sudah berpengalaman, lalu dipilih. Bukan. Tapi sampean diberi kesempatan untuk belajar menjadi pantas. Diberi peluang untuk menambah pengalaman”.

Kang Muhib diam. Merunduk. Masih banyak alasan yang ingin dia ajukan. Rencananya untuk melanjutkan kuliah di luar mulai mengambang. Cita-cita yang sudah lama diimpikannya juga mengambang. Tapi, ia berfikir bahwa ini kesempatan baik untuk mengabdikan dirinya. Mau kapan lagi? Belum tentu kesempatan ini datang dua kali. Bukankah salah satu penyebab manfaatnya ilmu adalah manut Yai?  Kang Muhib bimbang. Ia sadar bahwa selama mondok, dia merasa belum pernah khidmah sama sekali. Dan Kang Muhib masih bimbang.

“Ya sudah kalau sampean tidak mau, Hib. Santri Muhibbin masih ada 1000”

Seketika pikiran Kang Muhib buyar. Spontan santri asal Jombang itu meng-iyakan. “Nggeh, insyaAllah siap kulo, Pak”

Dan pada akhirnya, Kang Muhib bersedia menjadi pengganti Pak Zulfikar sebagai pengurus inti pesantren. Dia rela mengorbankan keinginannya untuk melanjutkan kuliah di Universitas ternama itu. Dia juga rela menunda cita-cita demi menjalankan satu misi mulia, ngabdi.

##

            Setelah membaca cerita diatas, setidaknya kita bisa sadar betapa penting pengabdian dalam dunia pesantren. Bahkan, saking pentingnya, Sayyid Muhammad Alwi Al-Maliki Al-Hasany, dawuh: Sering kita jumpai keadaan rumit yang membuat santri terjepit situasi: “nggak krasan”. Dari satu kalimat itu, bisa kita jabarkan penyebabnya menjadi banyak sekali. Bisa jadi karena sering diganggu temannya (baju sering hilang, uang sering dihutang terus gak mbalik, dicithuli. Wkwk), atau merasa tertekan dengan segala peraturan. Ada juga yang merasa bahwa tidak ada perkembangan selama ia mondok. Waktu yang dia pergunakan terasa percuma. Dan akhirnya memutuskan untuk mencari lembaga pendidikan lain.       Segala problema semacam itu, merupakan refleksi bagaimana niat seorang santri sejak memutuskan untuk menempa pendidikan pesantren.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *