Oleh: M. Abdurrahman Al Chudaifi

Pesantren sebagai basis ilmu keislaman menjadi sangat penting dalam mengkaji berbagai hal yang berkaitan dengannya. Pesantren sudah banyak menjadi obyek penelitian. Jika diringkas, kajian terhadap dunia pesantren sebagaimana disebut Taufik Abdullah (1987: 112-113) setidaknya dapat dilakukan melalui tiga aspek: pertama, aspek internal pesantren. Kedua adalah jalinan mata rantai pesantren antara pesantren induk dengan “pesantren cabang” yang didirikan oleh bekas murid dari pesantren induk. Hubungan ini selain tidak bersifat garis lurus, juga memperhatikan ikatan kekeluargaan dan orientasi teologis. Ketiga, aspek hubungan dunia pesantren dengan lingkungan sekitar. Keempat, aspek substansi teks-teks keagamaan (kitab) pesantren.Dalamtulisanini, yang menjadi topic pembahasanadalah yang keempat.

Martin Van Bruinessen (1995: 131-171) mencatat sekitar 900-an kitab yang digunakan di beberapa pesantren di Nusantara. Ia juga mengunjungi bebarapa penerbit dan toko kitab negeri-negeri jiran, seperti Malaysia, Singapore dan Pattani Thailand. Van Bruinessen, dalam hal ini, menyajikan sebuah daftar dengan memberikan analisis terhadap isi kitabnya secara singkat tentang 100 kitab terpopuler yang digunakan di pesantren Nusantara. Penelaahanya merentang dari berbagai disiplin ilmu-ilmu keislaman yang diajarkan di lembaga pesantren. Yang menarik, Van Bruinessen memberikan, dengan data-data yang ia punya, bahwa kurikulum rata-rata pesantren di Sumatera, Kalimantan dan Semenajung Malaya masih berbeda dalam kadar tertentu dari kurikulum pesantren di Jawa. Menurutnya, teks-teks yang ditulis oleh ulama Nusantara, semacam Al-Banjari, Al-Falimbani, dipelajari hingga kini dan didahulukan daripada karya-karya klasik berbahasa Arab yang menjadi bagian utama dalam kurikulum pesantren Jawa.

Pentingnya penelitian terhadap teks pesantren dengan segala seluk-beluknya juga disinyalir oleh Van Bruinessen (1995: 17) dan Dhofier (2011: 86), yang berpendapat bahwa kitab (terkadang sering disebut dengan “kitab kuning”) adalah salah satu dari elemen-elemen pesantren yang penting. Kitab juga merupakan tradisi dan epistemologi keilmuan Islam pesantren di Indonesia (Azra, 2012: 143). Ia adalah sumber konstruksi pengetahuan dan peradaban kaum santri (Baso, 2012b: 14). Tradisi pesantren tidak menjadi lengkap tanpa kitab. Dalam tradisi pesantren, kitab bukan semata sebagai benda mati, tetapi kitab yang dibaca, dipahami, dihayati dan kemudian diamalkan (Baso, 2012a: 134). Karena itu dapat dikatakan tradisi dan peradaban pesantren adalah tradisi dan peradaban kitab. Maka, penting artinya untuk melihat dan mengetahui bagaimana kalangan pesantren (kiai, ustaz dan santri) berinteraksi dengan kitab dan melakukan pembacaan kontekstual atas kitabnya dalam berbagai hal yang mungkin dilakukan.

Tentang metode pangajaran kitab, pada tahun 2008Balai Litbang Agama Jakarta meneliti tentang hal tersebut, yang mengajukan konsep mastery learning  melalui metode sorogan dan bandongan. Penelitian ini sebetulnya telah mengkaji satu aspek interaksi kalangan pesantren dengan kitab, yakni bagaimana kalangan pesantren mengkaji kitab.

Jadi, dengan mendeskripsikansalahsatu media pembelajaran berbasis kitab kuning yang berjudul manahilul marwiyah, setidaknya dapat memberikan pengetahuan dan model bagi kajian kitab di pesantren secara khusus, dan model bagi pengembangan bahan ajar yang kreatif.

Manahilul marwiyah

Kitab Naom Manahil Al Marwiyah merupakan karya KH. Habibul Amin Jombang, yang memuat Qa’idah-qa’idahnah}wu pemula dengan bentuk naz}om bahasa Jawa.Kitab Naom Manahil Al Marwiyahmemuat kaidah-kaidah sederhana yang menerangkan tentang gramatika bahasa Arab.KitabNaom Manahil Al Marwiyah terdiri dari 319 (tiga ratus Sembilan belas) naẓom.

Kitab Naom Manahil Al Marwiyah ini merupakan salah satu karya ilmu nah}wu dasar yang harus dipelajari, supaya dapat memahami secara benar  al-Qur’an dan h}adits sehingga terhindar dari kesalahan dalam lafat}-lafat}nya

Kitab Naẓom Manahil Al Marwiyahberbentuk naẓom – naẓom  berjumlah 319 bait dengan penulisan berbahasa  Jawa yang menerangkan tentang gramatika bahasa Arab dasar. Oleh karena itu penulis meringkas isi dari kitab Naom Manahil Al Marwiyahsebagai berikut.Mukaddimah (bait 1-10) menjadi bagian pembuka kitab ini.

فوجى ففات كاكوعانى ذات كع رحمن () ذات كع رحيم ولاس أسيه تور كع لومان

موكا صلوات سرطا سلامـــــــــى الله () كاتور نبى محمد بــــــــــــــــــن عبد الله

واجب اتاس لنع وادون كوليك علــــــــــــم () نجان فاهيت كتير كيا عومبى جامـــــــــــــــو

ديسئاكى عاجى نحو اجا واليـــــــــــــــــه () سبب دادى بفاء تكا علم كابيــــــــــــــــــــــه

وعكع تانفا نحو سسات بودك بيســــو () فرايوكا عاجى لييا اجا كسوســــــــــــو

حديث القرآن كتاب اعيل ايسيــــــــــنى () ناعيع نحو بكال دادى فتونجوكــــــــــــى

شعر ايكى عموت نحو جارا جــــــــــــــــاوا () ميكونانى بوجاه ووع آنوم ووع تــــــــــــــووا

كسوسون دينيع وعكع باعت بودونى () حبيب الأمين ايكو موعكوه اسمانــــى

داتع فوندوك فتح العلوم لومادينــــــــــــــــى () فوندوك نحو صرف جومباع فاعكونانــــــــى

موكا الله فاريع بركة منفعتـــــــــــــــــــي () مراع ايكى شعر اوكا ايع فوندوـــــــــــى

Materi pertama yang ditampilkan di sini adalah kalam dan kalimat (bait 11-30). Kemudian bab I’rab (bait 31-36) yang memiliki sub bab empat alamat I’rab (bait 37-82). Dilanjutkan dengan bab ma’rubat (bait 83-97) yang memiliki dua sub bab; yakni af’al (98-112) dan al asma’ yang memiliki tiga poin pembahasan.

Poin pertama adalah marfuatul asma’ (bait 113-116) yang masuk pada fa’il (bait 117-124), Maf’ul alladzi lam Yusamma Fa’iluhu (125-132) dan mubtada’-khabar (bait 133-147) sekaligus amil-amil yang masuk padanya, baik itu yang merafa’kan (bait 148-150), maupun yang merusaknya. Di antara amil-amil yang merusak susunan tersebut adalah Kana waAkhowatuha (bait 151-157), inna wa Akhowatuha (bait 158-165) dan dzana wa Akhowatuha (bait 166-170).

Poin kedua yaitu manshubatul asma’ (bait 217-221) yang memiliki sepuluh pembahasan; pertama, maf’ul Bih (bait 222-226).Kedua, mashdar (bait 227-231). Ketiga, dzarf al Zaman wa al makan (bait 232-238). Keempat, khal (bait 239-244).Kelima, tamyiz (bait 245-249). Keeman, Ististna’ (bait 250-270). Ketujuh, La al ‘amila ‘amala inna (bait 271-280).Ke delapan, Munada (bait 281-288).Kesembilan, maf’ul liajlih (bait 289-295).Kesepuluh, maf’ul ma’ah (bait 296-297).

Poin terakhir adalah makhfudzotul asma’ (bait 298-307).

Selain tiga poin di atas, ada empat pembahasan yang diselipkan oleh pengarang di antara poin pertama dan kedua. Yakni; Na’t (bait 171-179), ‘athof (bait 180-187), taukid (bait 188-194), badal (bait 195-201) dan an nakirah wa al ma’rifah (bait 202-216).

Sebagai penutup kitab, pengarang menuliskan khatimah yang berisi nasehat (bait 308-314) dan titimangsa penyusunan kitab (bait 315-319). Sebagai berikut:

ووس سامفورنا نظم ايكى كانتى باصــــا () جاوا اعسال توفيقى ذات كع كواصــــــــا

انا ملم جمعة صفر ووولانــــــــــــــى () سيوو فتاع اتوس سلاوى تاهونـــــــــى

سون فوعكاسى نظم ايكى كانتى موجى () شكور مراع الله ذات اعكع سوويجـــــى

صلواة سلام موكا كاتور جونجـــــــوعان () نبى كيطا محمد سورى تــــــــــــــاولادان

لن كاتور ايع فاميلى اوكا قرابـــــــات () لن صحابة نبى تمت و ختــــــــــــمت

Dalam sejarah penerjemahan teks-teks keagaman umumnya mengambil dua bentuk: pertama, bentuk terjemahan yang seutuhnya ditulis dalam bahasa lokal, Melayu atau Jawa misalnya dan biasanya hanya ntuk teks-teks yang berbentuk kalam natsar bukan kalam nadlom.; kedua, bentuk terjemahan antarbaris, di mana bahasa aslinya (Arab) tetap ditulis seutuhnya, kemudian bahasa lokalnya ditempatkan persis di bawah baris-baris teks yang berbahasa Arab itu.

Adapun kitab manahilul marwiyah meskipun bukan hasil penerjemahan kitab berbahasa arab, tapi isi dalam kitab tersebut merepresentasikan kitab-kitab qawaid pemula seperti jurumiyah dan imrithi.

Penerapan manahilul marwiyah

secara tradisional, pembelajaran agamadan nilai-nilai moral dalam tradisi pesantren dilaksanakan melalui model-model wetonan, sorogan, mentoring, dan setoran hafalan. Sementara itu, dalam perkembangan selanjutnya, pondok pesantren juga mengembangkan model-model pendidikan yang lebih variatif, di samping bersifat static-learning juga berupa active learning. Berikut penjelasan mengenai metode wetonan, sorogan, mentoring, dan setoran hafalan (Rizal, 2011: 105-106).

  1. Wethonan atau bandongan

Proses penyampaian bahan pelajaran yang paling tradisional dan lebih umum dilakukan secara klasikal untuk materi-materi pelajaran lanjutan serta diajarkan secara langsung oleh guru utama (kiai). Adapun untuk materi-materi pelajaran dasar dan menengah, kiai dibantu oleh para santri seniornya yang sering disebut sebagai ustadz atau wakil/ naib ajengan. Karena buku acuan berbahasa Arab, metode pengajaran lebih menekankan pada metode ceramah dan eksplanasi dengan proses sebagai berikut. Pertama, Kiai/ Wk. Kiai/ Ustadz membacakan isi kitab beberapa baris dan santri menyimaknya sambil memberikan tanda-tanda baca pada kitab pegangannya masing-masing. Kedua, Kiai/ Wk. Kiai/ Ustadz menerjemahkan bahan bahasan ke dalam bahasa daerah kata demi kata bersamaan dengan status gramatikalnya, sementara santri mencatatkan arti kata yang belum diketahuinya di bawah kata Arabnya dan memberikan tanda-tanda tata bahasa sesuai dengan posisi/ fungsi kata dalam kalimat. Ketiga, Kiai/ Wk. Kiai/ Ustadz menjelaskan isi keseluruhan paragraph yang dibahas dan santri menyimak penjelasan kiai. Keempat, Kiai/ Wk. Kiai/ Ustadz meminta beberapa santri secara acak dan spontan untuk membacakan bahan ajar yang baru selesai diajarkan, santri yang ditunjuk membaca sambil menerjemahkannya kata demi kata. Apabila ada kesalahan, koreksi dilakukan oleh kiai atau santri lainnya atas inisiatif santri sendiri atau atas penunjukkan kiai. Kelima, Kiai/ Wk. Kiai/ Ustadz sering menanyakan argumen-argumen berkenaan dengan sebab-sebab mengapa suatu kata dibaca begini atau begitu berdasarkan kitab tata bahasa Arab pada level yang telah dikuasai santrinya.

Menurut Dhofier (1994: 51), dalam sistem baca dan terjemah tersebut, para  kiai (sebagai pembaca dan penerjemah kitab tersebut dalam metode bandongan) bukanlah sekadar membaca teks dan menerjemahkannya saja, tetapi juga memberikan pandangan-pandangan (interpretasi) pribadi, baik mengenai isi maupun bahasa dari teks. Dengan kata lain, para kiai tersebut memberikan pula komentar atas teks sebagai pandangan pribadinya.

  1. Sorogan

Sorogan adalah suatu cara pengajaran kitab yang datang dari inisiatif santri sendiri yang ingin mendalami suatu kitab dalam ilmu tertentu. Oleh karena itu, metode ini besifat individual meskipun mungkin juga besama-sama dalam kelompok kecil yang semaksud memperdalam dan menguasai suatu kitab dalam ilmu tertentu. Sorogan biasanya dilakukan oleh santri senior kepada kiai secara langsung atau santri junior kepada santri senior.

  1. Mentoring

Pengajaran klasikal dalam pesantren tradisional (yaitu yang tidak mengenal gradasi formal) diikuti oleh santri dengan tingkat kemampuan yang heterogen. Oleh karena itu, seringkali kemampuan santri dalam satu kelas kitab yang sama berbeda, karena memang di antara santri ada yang telah mengulang dan ada yang baru sama sekali. Untuk itu, di luar jadwal kiai biasanya diadakan mentoring di antara para santri. Mentoring dilaksanakan secara sukarela dan berdasarkan permintaan santri kepada santri lain (biasanya yang lebih pandai, telah mengulang, atau lebih senior) oleh santri yang ingin memahamkan bahan yang telah diajarkan oleh Kiai/ wk. Kiai/ Ustadz.

  1. Setoran Hafalan

Hafalan merupakan salah satu cara yang ditempuh pesantren dalam membelajarkan santri dalam menguasai bahan pelajaran, terutama bahan pelajaran yang menyangkut dasar-dasar pengetahuan keislaman seperti tajwid, al-Qur’an, nahwu, dan sharaf. Metode hafalan berlangsung dengan teknis, para santri menghafalkan kitab yang harus dihafalkan (materi dan sumber berbeda-beda pada setiap pesantren) di luar waktu-waktu belajar terjadwal, kemudian menyetorkannya kepada kiai atau yang mewakilinya seperti wakil kiai, ustadz, atau santri senior yang sudah menguasai kitab tersebut pada waktu-waktu tertentu. Setoran biasanya bersifat individual dan tanpa penjelasan arti dan makna. Hafalan, terutama al-Qur’an (pada pesanten tahfizh yang mengkhususkan alQur’an) dan nahwu/ sharaf menjadi penentu kualifikasi senioritas santri.

Maka kitab di atas sebagai salah satu media pembelajaran di pesantren lebih efektif jika menggunakan metode setoran hafalan karena dari bentuk penyampaiannya yang berbentuk nadlom atau syair.

Kesimpulan

Kitab manahilul marwiyah sebagai media pembelajaran yang kreatif dapat dilihat dari dua segi, pertama, dari segi kitab itu sendiri yakni bentuk syair yang berbahasa jawa sehingga menjadi terobosan baru dalam dunia pendidikan pesantren yang khususnya berada di jawa. Kedua, dari segi pembelajarannya yang menggunakan setoran. Karena biasanya pembelajaran yang menggunakan setoran menggunakan kitab syair qawaid berbahasa arab sehingga pemahaman isi materi tidak semua terserap oleh peserta didik, maka dengan manahilul marwiyah peserta didik dengan sekali jalan dapat langsung memahami isi materi yang dihafalkan.

 

Daftar Rujukan

Dhofier, Zamaksyari. 1994. Tradisi Pesantren, Studi tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES.

Abdullah, Taufik. 1987. Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia. Jakarta: LP3ES.

Van Bruinessen, Martin. 1995. Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-Tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Mizan.

Baso, Ahmad. 2000. “Pengantar Penerjemah. Posmodernisme sebagai Kritik Islam: Konstribusi Metodologis “Kritik Nalar” Muhammad Abed al-Jabiri,” dalam Post Tradisionalisme Islam, Muhammad Abed al-Jabiri,terjemahan dan kompilasi Ahmad Baso. Yogyakarta: LKiS.

Azra, Azyumardi. 2003. Surau: Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi. Jakarta: Logos.

Amin, Habibul, Manahilul Marwiyah, Kediri, Dar al Amin, Tt

Rizal, Ahmad Syamsu. 2011. “Transformasi Corak Edukasi dalam Sistem Pendidikan Pesantren, dari Pola Tradisi ke Pola Modern”. Ta’lim 9, 95-112.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *