Di hari pahlawan kita tidak meninggal kan Rekam jejak perjuangan kyai dan santri dalam mempertahankan NKRI tidak dapat terelakkan. Pasalnya banyak sekali pergerakan-pergerakan yang dilakukan para kyai untuk memobilisasi para santri dan rakyat untuk menunjukkan perjuangan mereka. Salah satunya adalah Resolusi Jihad dan fatwa-fatwa lain para kyai tentang wajibnya berjuang melawan penjajah. Douwes Dekker pernah berkata dalam bukunya: “Kalau tidak ada kyai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.”
Pada waktu itu para santri dan masyarakat bergerak atas perintah sang kyai. Para kyai menempati posisi yang terhormat di mata masyarakat. Hal ini berkaitan dengan watak masyarakat yang religius sehingga kyai menjadi tempat bertanya dalam setiap urusan agama termasuk perjuangan dalam membela tanah air. Oleh karena itulah mengapa dalam rekruitmen anggota Tentara Sukarela PETA (tentara bentukan jepang) para kyai, ulama, guru agama Islam diprioritaskan oleh jepang untuk menjadi pemimpin PETA dengan diangkat menjadi Daidancho (komandan).
Dalam menghadapi penjajah para kyai membentuk laskar-laskar santri militer. Pada 14 Oktober 1944 Hizbullah berdiri secara resmi yang mayoritas anggotanya adalah santri-santri nahdliyin. Barisan Hizbullah yang diketuai oleh Kyai Zainul Arifin ini mempunyai slogan yang berbunyi “Isy kariman au mut syahidan” artinya “Hidup mulia atau mati syahid”. Beberapa kemudian para ulama membentuk pasukan Sabilillah yang diketuai oleh Kyai Haji Masykur. Disamping itu juga para ulama membentuk pasukan Mujahidin yang dipimpin oleh Kyai Haji Wahab Hasbullah.
Sebelum berangkat ke medan perang santri-santri digembleng terlebih dahulu oleh para kyai. Misalnya, di daerah Kotagede Yogyakarta terdapat masjid yang menjadi saksi bisu perjuangan kyai santri. Masjid itu bernama “Masjid Perak”. Di halaman masjid tersebut santri-santri yang tergabung dalam barisan Hizbullah dan Sabilillah pimpinan Kyai Haji Zubaidi Bajuri diberikan pembekalan dan pelepasan oleh para kyai.
Pada tanggal 19 September 1945 di daerah bekasi, Kyai Haji Noer Ali membentuk Laskar Rakyat. Seluruh pasukan dan santrinya diperintahkan menghentikan proses belajar mengajar untuk mendukung perjuangan. Dia kemudian mengeluarkan fatwa “Wajib hukumnya berjuang melawan penjajah”. Dalam waktu singkat, Laskar Rakyat berhasil menghimpun 200 orang yang merupakan gabungan para santri dan pemuda sekitar Babelan, Tarumajaya, Cilincing dan Muaragembong.
Di Banyumas hampir semua pemuda tergabung dalam “Barisan Ansor”, “Surya Wirawan”, “Pemuda Gerindo”, “Hizbul Wathan” dan “Kepanduan Bangsa Indonesia”. Akan tetapi, yang paling besar jumlah anggotanya adalah “Barisan Anshor”. Mereka terdiri hampir dari seluruh lapisan pemuda. Para santri, tukang gambar, tukang gunting rambut, para pedagang kecil, pemuda tani, buruh pabrik dan sebagainya.
Sedangkan dalam menghadapi Inggris dan NICA di Surabaya, 10 November 1945, para santri bersiap untuk berjuang habis-habisan setelah keluarnya fatwa Kyai Haji Hasyim Asy’ari dalam Resolusi Jihad. Mereka mengucapkan pantun “Suroboyo : Taliduk tali layangan, nyowo situk ilang-ilangan”. Menurut saksi sejarah, Kadaruslan, Ketua Putera Surabaya (Pusura), waktu itu, semangat pemuda didominasi oleh para santri dari luar kota. Bahkan dari Jawa Barat, terutama dari pesantren Buntet, Cirebon, melalui himbauan Kyai Haji Abbas dikirim ribuan santri yang tergabung dalam Hizbullah dan Sabilillah di Cirebon dan sekitarnya untuk menambah kekuatan kaum revolusioner Surabaya.
Pertempuran di Surabaya terjadi begitu dahsyatnya. Dalam pengerahan dan penyerangan terhadap Surabaya ini pihak Inggris menyatakan bahwa pengerahan kekuatan militernya saat itu adalah yang terbesar setelah Perang Dunia II. Akan tetapi, mereka dengan mata kepalanya sendiri menyaksikan betapa gigih dan semangatnya perlawanan-perlawanan itu dilakukan oleh pihak Republik. Bahkan sebagian mereka terheran-heran menyaksikan para kyai dan santri bertakbir sambil mengacung-acungkan senjata.
Meskipun pada waktu itu santri masih awam dengan persenjataan modern dan strategi perang, tetapi hati mereka tergugah untuk semangat juang membela agama, nusa dan bangsa serta ketaatan mereka yang penuh kepada para kyai disertai perjuangan yang semangat dan totalitas untuk masyarakat. Karena santri itu mempunyai jiwa yang “Ketika di pesantren ngawulo dengan kyai setelah pulang ngawulo dengan masyarakat”.
Lahirnya laskar-laskar santri ini membawa semacam revolusi di kalangan santri. Mereka yang selama hidup tidak pernah mengenakan celana panjang, mendadak tampil mengenakan celana di samping berkain sarung. Banyak terjadi hal yang lucu-lucu. Mereka masih malu-malu mengenakan celana. Jika hendak pergi ke tempat latihan, dari rumah sudah mengenakan celana, tetapi di luarnya tetap memakai kain sarung. Baru setelah tiba di tempat latihan, bila dilihat sudah mulai banyak teman-temanya yang bercelana, barulah mereka menanggalkan kain sarung dan celana sudah siap dikenakan.
Tulisan ini mencatat sedikit tentang dunia kyai dan santri dalam mempertahankan NKRI. Tapi fakta ini sering diabaikan dan tersisihkan, dunia santri tetap menjadi sisi lain yang belum sepenuhnya dapat dipahami. Sejarahnya pun seperti terlipat di dalam beberapa lembaran sejarah Indonesia.

Referensi :
Guruku Orang-orang dari Pesantren, KH. Saifuddin Zuhri.
Kumpulan Pahlawan-pahlawan Indonesia, Mirnawati.
Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia, Abdul Baqir Zein.
Kharisma Kyai As’ad di Mata Umat, Syamsul A. Hasan.
Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad, Zainul Milal Bizawie.
The Founding Fathers of Nahdlatoel Oelama’, Amirul Ulum.
Islam Dalam Berbagai Dimensi, DR. Daud Rasyid, MA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *