إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu

Siapakah Imam Ghozali itu? Dari manakah beliau berasal? Pertanyaan semacam itu bukan berarti tak mengenal nama besar murid dari Imam Haromain ini. Nama besar Muhammad bin Muhammad Al Ghozali seakan sinar matahari di siang hari. Nama beliau telah tertanam di hati ummat. Keduanya, murid dan guru telah terukir dalam tinta emas sejarah. Itu semua tak lepas dari ilmu dan metode pendidikan yang diterapkan oleh keduanya.

Bagi Imam Ghozali dan Imam Haromain, pendidikan atau tarbiyah memegang peranan penting dalam membentuk masyarakat yang islami. Dengan pendidikan dan tarbiyah ummat memperoleh kedudukan bermartabat. Dengan pendidikan dan tarbiyahlah umat bisa meraih masa depan yang lebih baik. Dari sanalah semua bermula. Dari itu, tanpa pendidikan seorang muslim tidak akan dapat memahami ajaran agamanya secara kâffah. Tanpa pendidikan, seorang muslim bisa jadi tak kenal dimana dan kemana arah iman harus bermuara. Tanpa pendidikan, terkadang kejelekan dianggap kebaikan. Tanpa pendidikan, terkadang sesuatu yang dilarang dianggap sesuatu yang diperbolehkan.

Untuk itu, Imam Ghozali menggabungkan keseimbangan tiga unsur dalam diri manusia. Pertama, pendidikan dan tarbiyah yang sempurna yang sesuai dengan wahyu Ilâhi. Kedua, memberikan hak nafsu pada porsi yang semestinya. Ketiga, memberikan hak badan dan perut pada porsi yang semestinya. Dengan tujuan menjadi hamba Allah Swt. yang sejati pada berbagai peran dalam kehidupan. Dan dengan itu pula akan lahir Kholîfah-Kholîfah Allah Swt. di muka bumi. Ternyata prediksi beliau itu tidak meleset. Pada era berikutnya sepeninggal beliau lahirlah sang penakluk sejati Sholahudin Al Ayubi, pahlawan asal hittin (tirkit) . Pada masa beliaulah,  tanah suci Al Aqshô kembali untuk yang kedua kalinya ke pangkuan kaum muslimîn dari tangan-tangan kaum Salibis. Semua itu tentu tidak lepas dari pendidikan dan tarbiyyahnya yang terinspirasi dari metode Al Imam Al Ghozali.

Tetapi, hari ini pendidikan yang dicanangkan pemerintah jauh dari harapan kita kaum muslimin, bahkan merongrong dan berusaha menghancurkan impian kita kaum muslimin. Pendidikan yang dicanangkan pemerintah semuanya seolah tercerai-berai tanpa ikatan. Pendidikan yang seharusnya untuk ruh, terpaksa terpisahkan dari tarbiyyah untuk jasad, tarbiyah untuk jasad seolah tidak berhubungan dengan pendidikan bagi akal dan begitu seterusnya. Tetapi, anehnya justru kita bangga dan menyebut terbengkalainya pendidikan dan tarbiyyah sebagai spesialisasi.

Sembilan ratus tahun yang silam Imam Ghozali telah memperhatikan dan memperingatkan tentang pendidikan dan tarbiyyah yang semacam itu. Sebagai solusinya, beliau mengajukkan konsep paripurna. Yaitu, pendidikan harus menyentuh dengan mengelola imâniah, fikriyyah, khuluqiyah (dhohiryyah dan battiniyyah) bahkan dalam karya Masterpiece beliau, Ihyâ’ Ulûmuddîn, beliau membahas tarbiyyah badaniyyah, yakni kebutuhan jasmani sampai seksual. Karena hal tersebut dianggap sangat penting untuk membedakan Badaniyyah dan Lahiriyyah.

Hari ini tidak saja pendidikan yang begitu rancu dalam struktur umat Islam dalam masyarakat Indonesia. Bahkan pendidikannya pun tak jelas agamanya sehingga melahirkan generasi yang jauh dari agama Islam. Yaitu, Islam mereka hanya ada dalam KTP saja bahkan tak jarang kaum muslimin di kristenkan, ideologinya dihancurkan, sehingga kita temui generasi umat Islam yangt justru menghancurkan umat Islam. Yâ Allâh Na’ûdzu bika mindzlika. ini disebabkan oleh banyak hal:

  1. Sistem pemerintah yang tak berpihak pada umat Islam dikarenakan undang-undang pemerintah warisan Belanda.
  2. Lemahnya politisi Islam di Parlemen sehingga mereka tidak mampu menyuarakan aspirasi umat dalam tuntutan hak pendidikan kaum muslimin.
  3. Kebanyakan kaum muslimin tak sadar dengan ancaman sekenario salibis, dikarenakan ekonomi mereka carut-marut sehingga pikirannya sibuk sendiri-sendiri.

Ironisnya, persoalan yang sangat penting di negeri ini tak tau kearah mana pendidikan akan dibawa. Tak heran jika hari ini banyak kita temui insiden-insiden murid bunuh diri, guru menganiaya muridnya, ada dosen didemo bahkan akan di bunuh oleh mahasiswanya, Bahkan guru memperkosa muridnya.

Tentu saja menyalakan lilin itu lebih baik dari pada memakai kegelapan. Dari pada membengong atau putus asa dengan keterpurukan pendidikan, lebih baik kita serukan pada saudara-saudara kaum muslimin. Mari kita kembali pada metode salaf seperti apa yang diagendakan Imam Al Ghozali dengan harapan akan muncul generasi-generasi Ghozali, sehingga negara kita dengan umat Islam terbesar di dunia ini hidup dengan Izzah fiddunyâ wal âkhiroh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *