Saudara-saudaraku,

At thoriqah ahammu min al madah (metode lebih penting dari materi) maksudnya, tidak ada artinya seorang guru memahami materi jika tidak memiliki metode pembelajaran untuk mengajarkan apa yang dipahaminya dengan baik.

Metode mengajar bagi seorang guru itu ibarat kemaampuan melaut bagi nelayan, yang andaikan ketika pelaut itu tidak memilikinya, dapat dipastikan dia akan terombaang-ambing di tengah lautan, tidak perduli seberapa bagus kapal yang ia naiki. Di pesantren ada satu nilai yang sangat penting dan paling utama untuk dipelajari dan diamalkan yaitu pembelajaran akhlaqul karimah yang diajarkan melalui metode uswah khasanah. Bagi seorang kyai pendidikan budi pekerti yang baik itu lebih efektif diajakan melalui percontohan pribadi yang baik pula, seperti ungkapan ‘lisan al khal kairun min lisan al maqal’ (pembelajaran dengan praktek lebih utama daripada skedar teori belaka).

Saudara-saudaraku,

Al mudarris ahammu min at thariqah (seorang guru lebih penting dari metode) maksudnya, tidak ada artinya berbagai macam metode pembelajaran yang dikuasai, jika seseorang itu tidak menjadi guru dan menerapkannya pada anak didiknya.

Abudin Nata dalam bukunya yang berjudul Filsafat Pendidikan Islam mengatakan bahwa guru memiliki delapan sifat khusus, diantaranaya adalah; pertama, memiliki rasa kasih saying pada muridnya. Kedua, mengajar didasarkan atas kewajiban bagi orang yang berilmu. Ketiga, berlaku jujur kepada muridnya. Keempat, tidak menggunakan kekerasan saat mengajar. Kelima, menjadi panutan bagi muridnya. Keenam, mengakui ada potensi yang berbeda pada muridnya. Ketujuh, memahami karakter murid. Kedelapan, apa yang dilakukan sesuai dengan apa yang dikatakan. Bagi kita yang telah mengandang gelar sebagai guru apakah sudah siap untuk sesuai dengan akronim guru yang berarti digugu lan ditiru dan delapan sifat tadi, mari kita mengintropeksi diri kita sebelum menilai murid kirta masing-masing.

Saudara-saudaraku,

Ruh al mudarris ahammu min al mudarris binafsihi (jiwa seorang guru lebih penting dari guru itu sendiri) maksudnya, tidak ada artinya berstatus menjadi guru, jika tidak memiliki jiwa seorang pendidik.

Kadang sebagian guru terjebak pada doktrin bahwa ‘semua ilmu itu milik Alloh, sehingga terserah kepada siapa Dia menganugerahkan ilmu itu, jadi tugas pendidik hanya menyampaikan informasi keilmuan, paham tidaknya anak didik tidak ada hubungan, itu sudah ranah anugerah Tuhan’. Hal inilah yang membuat semangat dalam mendidik hanya asal menyampaikan materi. Meskipun doktrin di atas tidak bisa disalahkan  semuanya, bukan berarti seorang pendidik menafikan usaha untuk memahamkan anak didik akan materi yang diajarkan.

Di pesantren mengenal istilah kasb, sebuah tingkatan di mana untuk mendapatkan sesuatu harus melalui usaha nyata. Ketika usaha itu sudah dilakuan dengan maksimal, maka tingkatan berikutnya adalah tawakkal, seperti halnya doktrin di atasa tadi. Malahan di pesantren seorang mustahiq (setingkat wali kelas) ketika melakukan kegiatan belajar mengajar, kasb dan tawakkal diterapkan secara beriringan. Dalam prakteknya, para guru di pesantren meluangkan waktu pribadinya untuk memberikan jam khusus untuk siswanya yang tertinggal atau kurang memahami materi, terkadang juga di bawah pengawasan guru, dibentuklah kelompok belajar di luar jam belajar wajib, yang disetiap kelompok ada beberapa siswa yang mumpuni dalam materi. Semua usaha itu dilakukan beriringan dengan kepasrahan bahwa paham tidaknya santri itu juga sedikit banyaknya tergantung dengan usaha untuk mencapainya.

Sebagai penutup Ibnu ‘Araby berkata “setiap orang yang mencintaimu karenamu, maka peganglah cintanya, karena itulah sejatinya cinta. Dan cinta Alloh pada makhluknya adalah cinta semacam ini. Dia mencintai mereka untuk mereka, bukan untuk diriNya” sebagai pendidik sudah seharusnya menyayangi anak didiknya bukan karena kepentingan pribadi, namun karena mereka adalah muridnya.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *