Sudah kita hayati bahwa islam adalah sebuah agama adikarya yang diturunkan yang maha esa pada nabi serta rasul kita, nabi Muhammad SAW, baik berupa kitab samawiyah maupun ahwal dari para rasulnya. Semua itu diturunkan dan disebarluaskan agar seluruh umat manusia mendapatkan uswah ( teladan ) dan pedoman berupa ajaran-ajaran normatif sebagai rambu-rambu penuntun para penganutnya 
Dalam hal itu, syariat (ajaran) agama islam berusaha keras untuk mengarahkan kehidupan ummat manusia kepada segala kebaikan dan apapun cara untuk mendapatkan, serta membumikan kebaikan tersebut baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Disisi lain, agama ini juga membentuk berbagai norma dalam berbagai bidang untuk mengawal kehidupan ummat dari adanya keburukan, kerusakan, dan segala sarana yang bisa mendatangkan kepada kedua hal tersebut.
Tentu saja ketika kita meninjau itu semua, maka kita akan memahami bahwa intisari syariat islam itu sendiri adalah untuk merealisasikan berbagai kemashlahatan serta menolak dan mencegah  timbulnya unsur mafsadah dalam konteks kehidupan baik dunia maupun di akhirat.
 Sehingga ketika kita menilisik lebih jauh tentang maqoshid agama islam, maka kita akan mendapat sebuah keyakinan bahwa segala bentuk kemashlahatan tidak boleh disepelekan. Begitu pula hal apapun yang akan berindikasi pada munculnya berbagai bentuk mafsadah, tak diperkenankan untuk didekati sekalipun. Walaupun tidak dijumpai nas, ijma, ataupun qiyas tentang perkara tersebut, karena substansi dari syariat islam sudah menetapkan hal tersebut 
و المصلحة : لذّة وسببها, أو فرحة و سببها.
“ maslahah adalah sebuah kenikmatan dan akses mendapatkannya atau sebuah kebahagiaan serta akses untuk memperolehnya.”
و المفسدة : ألم و سببه, أو غمّ و سببه.
 “ mafsadah adalah suatu kepedihan dan penyebabnya atau kesusahan dan sarana terjadinya kesusahan tersebut.”
و لم يفرّق الشّرع بين دقّها و جُلّها, وقليلها و كثيرها : كحبّة خردل, و شقّ تمرة, و زنة برّة, و مثقال ذرّة.
( فمن يعمل مثقال ذرّة خيراً يره  • و من يعمل مثقال ذرّة شرّاً يره ). ] الزلزلة : ٩٩/٨-٧ [
Demikian keterangan Syeikh Izzuddin bin Abdus Salam dalam  karyanya yang berjudul القواعد الصغرى pada pembahasan awal tentang المصالح و المفاسد.
قال : ( و تعاونوا على البرّ والتّقوى و لا تعاونوا على الإثم والعدوان ).
 
Hingga muncullah sebuah pertanyaan, jika memang islam membawa ajaran dengan asas yang telah disebutkan. Kenapa banyak sekali konflik yang terjadi dengan berdasar atas nama agama?
Bila kita menelisik secara runtut dengan jalan berpikir yang benar dan terbuka. Maka kita menemukan satu persatu batu sandungan penyebab agama ini terseok-seok untuk bisa memperlihatkan jati dirinya. Penyebab adanya Batu sandungan tersebut dikarenakan dampak internal agama juga disebabkan dampak eksternal. Berikut beberapa dampak yang mendominasi terhambatnya cahaya islam:
1. Tertutupnya cahaya lentera islam dari segi penganutnya. Yang dilandaskan pendapat Asy-Syaikh Muhammad Abduh, yakni:
الإسلام محجوب بالمسلم
Cahaya islam telah tertutup disebabkan penganutnya
Tidaklah asing bagi kita sendiri bahwa memang banyak penganut agama islam yang tidak bisa memahami, menghayati, dan menerapkan ajaran-ajaran agama. Bahkan banyak ditemukan dalam beberapa kasus yang dimana perilaku mereka tidak sekalipun mencerminkan ajaran rasulullah. Hingga juga ditemukan beberapa oknum yang melakukan Tindakan-tindakan keji dengan melandaskan bahwa perbuatan tersebut adalah bagian dari ajaran yang diterapkan dalam agama islam. 
Dengan berbagai model penganut agama yang begitu majemuk, yang memang Sebagian besar agak salah mengartikan ajaran syariat. Bila penganutnya sudah begitu, Maka benarlah bahwa islam sekarang dalam masa kritis yang disebabkan menyebarnya virus-virus tersebut dalam badan agama. 
2. Diterapkannya nilai-nilai agama oleh selain…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *