Bertaubat ada dua macam. Yaitu (1) bertaubat dari dosa yang berhubungan dengan Alloh SWT dan (2) bertaubat dari dosa yang berhubungan dengan anak adam atau sesama manusia.

Bertaubat dari dosa yang berhubungan dengan Alloh, syarat-syaratnya ada 3:

1-An-Nadamu (ُالنَّدَم), yang artinya adalah menyesali dosa-dosa yang telah dilakukan. Harus merasa menyesal. Karena terkadang ada orang berdosa, kemudian bertaubat hanya membaca istigfar tapi hatinya tidak merasa menyesal. Taubat yang begitu sulit diterima oleh Alloh karena tidak disertai penyesalan.

2- Al-Iqla’u (الإقلاع) yang berarti meninggalkan dosa yang dilakukan. Jangan sampai dosa yang dilakukan belum ditinggalkan tapi sudah istigfar.

Seperti ketika seseorang minum minuman keras, masih minum tapi membaca istigfar. Hal ini tidak boleh, karena sama dengan menghina Alloh. Efeknya, taubat tidak diterima. Dan akan menjauh dari Alloh.

Praktik al-Iqlau ini dapat kita lihat dalam hikayah yang disebutkan dalam kitab Durotun Nashihin. Yaitu ketika ada seorang Pemuda Ahli Ibadah akan maksiat yaitu berzina dengan wanita nakal. Kemudian Alloh memberinya rahmad sehingga maksiatnya urung, tidak jadi, dan pemuda itu seketika meninggalkan maksiatnya. Inilah yang dinamakan Al-Iqla’u.

3- Al-Azmu (العزم) artinya niat yang kuat untuk tidak melakukan/ mengulang dosa-dosa yang diperbuat lagi.

Selain tiga syarat itu, ada juga taubat dari dosa besar yang membutuhkan “Taubatan Nasuha”. Amaliyah taubatan nasuha adalahdengan berpuasa selama 3 hari. Semisal berpuasa pada hari Selasa, Rabu, dan Kamis disertai dengan sholat taubat pada malam harinya.

Contoh pada hari Selasa Puasa. Maka diusahakan pada malam Rabunya melakukan sholat taubat. Amalan itu terus dilakukan sampai 3 malam.

Berikut adalah sholat taubat ijazah dari KH. Abdul Djalil Mustaqim yaitu:

1- Pada rokaaat pertama setelah fatihah membaca surah Al-Insyiroh (Alam Nasroh)

– Ketika Sujud membaca :
سبحان ربي الأعلى وبحمده ٣x

– رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ذنبي فإنه لا يغفر الذنوبَ إلا أنتَ ٣x

2- Pada rokaaat kedua setelah Fatihah membaca Surah Al-Fiil (Alamtara)

– Dan ketika sujud membaca bacaan seperti rokaat pertama.

Pada hari rabu berpuasa, dan pada malam kamis sholat taubat 2 rokaat lagi. Amalan ini dilakukan sampai 3 hari yaitu puncaknya pada hari Kamis malam Jumaat.

Amalan inilah yang disebut Ayamul Bidh atau hari putih. Seperti sejarah Nabi Adam ketika bertaubat. Sebelum taubatnya diterima oleh Alloh. Beliau berlari mondar-mandir sampai kulitnya hitam terpapar sinar matahari.

Karena sengatan matahari itulah kulit beliau menjadi hitam. Tapi setelah puasa satu hari, 1/3 kulitnya menjadi putih. Setelah puasa 2 hari, 2/3 kuitnya menjadi Putih. Setelah puasa 3 hari penuh, seluruh tubuhnya menjadi putih.

Syarat taubat yang berhubungan dengan manusia, ditambah satu lagi yaitu (4) Al-Baro’ah, yang berarti bersih diri dari semua hak adami. Baik yang berhubungan denganharga diri (ngerasani, mengolok-ngolok, memisuhi, menghina dll), maupun materi (mengambil harta dll). Maka yang bertaubat harus memita halal.

Apabila orangnya meninggal atau berada di tempat yangjauh di tempat yang tidak mungkin dijangkau, maka bisa memintakan ampunan kepada Alloh dengan membaca:
اللهم اغفر لنا وله

Syekh Ali Bin Ahmad al Jauzi dalam kitab Tuhfatul Khowas menulis bahwa apabila kesalahan itu berhungan dengan materi,maka cara meminta halal adalah, memintakan halal kepada yang bersangkutan.Atau mengembalikan materi yang bersangkutan.

Apabila yang bersangkutan sudah meninggal, maka harus diserahkan kepada Ahli warisnya. Apabila ahli warisnya tidak ada. Maka diserahkan kepada hakim yang bisa dipercaya, atau Alimun mutadayinun, Orang Alim yang berpegeng teguh terhadap agama. Apabila tidak mungkin, materi tersebut bisa digunakan dengan ditasarufkan untuk kemaslahatan umum.

Syarat-syarat taubat kepada manusia yang ada 4 itu, berdasarkan hadis nabi SAW :

من كان لأخيه مظلمة في عرض أو مال فليستحلله اليوم قبل ألا يكون دينار ولا درهم، فإن كان له عمل صالح يخذ منه بقدر مظلمته، وإن لاأخذ من سيئات صاحبه فحمل عليه»متفق عليه.

Artinya, “Barangsiapa mempunyai kesalahan kepada kawanya, baik masalah harga diri atau harta maka ia harus minta halal pada hari ini, sebelum datang hari yang tiada dinar dan tiada dirham, maka apabila ia mempunyai amal niscaya amal itu akan diambil sesuai dengan kesalahannya, dan apabila tidak, maka dosa kawan-kawanya tadi akan diambil dan dibebankan kepada orang yang memiliki kesalahan tersebut”.

Suatu ketika Nabi pernah bertanya kepada para sahabat, “Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut?”. Para Sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut, adalah orang yang tidak punya uang receh”. Nabi menjawab, “Bukan”. Kemudian Beliau meneruskan, “Orang yang bangkrut, adalah orang yang sowan kepada Alloh dengan membawa amal yang banyak. Kemudian dia dihadang orang-orang yang pernah dia buat salah. Mereka menuntut, kemudian amalnya diambil, sampai amalnya yang banyak habis, dan yang menuntut belum tuntas sehingga dosa yang dibuat salah dibebankan kepadanya”.

Kasus diatas dapat terjadi apabila bertaubat tapi tidak meminta maaf dan meminta halal kepada yang dibuat salah.

Diantara hal yang penting dan harus kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari adalah aktivitas dan kebiasaan sehari-hari.Karena hal itu akan berpengaruh kepada pada kita saat menjelang mati. Nabi SAW bersabda:

المرء يموت على ماعاش عليه

Artinya, “Orang itu akan mati seturut dengan kebiasaannya di waktu hidup”.

Apabila sesorang membiasakan kalimah thoyibab, “لاإله إلاالله” secara terus menerus. Maka ketika mati pun juga akan mengucapkan, “لاإله إلاالله”. Nabi bersabda:

من كان أخر كلامه لا إله إلا الله، دخل الجنة

Artinya, “Barangsiapa pada akhir hidupnya membaca Lailaha Ila Alloh, dia akan masuk surga”.

Contoh lain adalah membiasakan dzikir, “Alloh, Alloh, Alloh”.Maka pada akhir hayatnya walaupun lisannya tidak bisa berucap, tapi hatinya tetap berzikir Alloh-Alloh. Nabi bersabda:

من مات وهو يعلم لا إله إلا الله دخل الجنة

Artinya, “Barangsiapa yang mati, dan di dalam hatinya meyakini tidak ada tuhan selain Alloh, maka dia akan masuk surga”.

KH. Mansur bin Kholil Lasem pernah mengijazahi saya (KH. Mohammad Djamaluddin Ahmad). Beliau dawuh, “Mal Aku titip amalan, amalkan ya!!!”. Saya menjawab, “InsyaAlloh Yai”. Beliau kemudian mengijazahkan:

1- Apabila malam Jumat atau hari Jumat, membaca Ya Alloh, YaAlloh 1000 x.

2- Malam Sabtu sampai hari Sabtu membaca 1000x:

لا إله إلا الله

3- Malam Ahad sampai hari Ahad membaca 1000x:
يا حي يا قيوم

4- Malam Senin sampai hari Senin 1000 x:

لاحول ولاقوة الا بالله العلي العظيم

5- Malam Selasa sampai hari Selasa membaca 1000 x :

صلى الله على محمد صلى الله عليه وسلم

6- Malam Rabu sampai Hari Rabu membaca 1000 x:

أستغفر الله العظيم

7- Malam Kamis sampai Hari Kamis membaca 1000 x:

سبحان الله العظيم وبحمده

Ternyata apa yang diijazahkan Kiai Mansur itu adalah wiridannya Imam Ghazali. Imam Ghazali pernah berkata, “Aku difutuh oleh Alloh sebab mengamalkan wiridan tersebut”. Nah, kalau hal-hal baik seperti itu dibiasakan maka kalau mati akan bisa menyebut Alloh.

Tapi apabila kebiasaannya adalah misuh atau berkata kotor, maka matinya juga akan misuh.
Dulu Kiai Fattah pernah patah kaki dan dirawat di RS Soetomo Surabaya. Nah sebelahnya dalam satu kamar adalah anak muda dari Bojonegoro. Anak muda itu sedang Naza. Sampai oksigennya lepas tiga kali.

Ketika mati tiba-tiba dia misuh, “D-A-N-C……ila akhirihi”. Selang waktu beberapa saat datang seorang wanita tua yang sudah beruban. Ternyata wanita itu adalah mertuanya. Ketika saya tanya apakah kebiasaan pemuda itu ketika hidup misuh. Mertuanya jawab, “Misuh bagi menantu saya sudah nyego-jangan”.

Saya juga pernah dapat kabar dari salah satu Kiai muridnya Mbah Yai Djalil. Suatu ketika dia dipanggil oleh keluarganya karena ada keluarga yang Naza’.

Kiai itu menuntun, “La Ilaha IlaaAlloh”. Kepalanya geleng-geleng. Kemudian dituntun, “Alloh-Alloh-Alloh”. Juga geleng-geleng. Ketika mati tiba-tiba yang dituntun berkata, “Nomer piro sing metu”. Padahal orang itu adalah moden. Ternyata semasa hidupnya mbah moden itu, sering togel.

Pentingnya dzikir sebagaimana Alloh berfirman dalam hadist Qudsi:

أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ

Artinya, “Aku akan selalu mendampingi hamba-Ku, selama hamba-Ku ingat kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak-gerak menyebut nama-Ku”.

Dalam hadist qudsi itu ada lafadz Maiya yang berarti mendampingi. Kata Maiya sendiri sebenarnya memiliki 4 makna yaitu (1) Maiyatu Takrimin (Alloh akan memuliakan/ memberi kemuliaan-Nya), (1)Maiyatu Nasrin (Alloh akan selalu memberi pertolongan-Nya), (3) Maiyatu Khimayatin (Alloh akan selalu melindungi hamba-Nya), (4) Ma’iyatu Ta’yidin (Alloh akan selalu memberi kekuatan kepada Hamba-Nya). (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *